100 Warga Kota Madiun Minat Tinggal di Rusuwa

31
SUDAH PENUH: 68 kamar yang tersedia di rusuwa Kelurahan Nambangan Lor saat ini sudah penuh disewa.

MADIUN – Sebanyak 68 kamar rumah susun sewa (rusuwa) Kota Madiun telah dipadati penghuni rusun sejak April lalu. Kendati penuh, masih banyak warga di Kota Karismatik yang tertarik menghuni bangunan lima lantai tersebut.

Data Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Madiun, ada 100 lebih kepala keluarga (KK) yang telah mendaftarkan keluarganya untuk menghuni rusun. Mereka tertarik tinggal seperti di rusuwa Kelurahan Nambangan Lor, Kecamatan Manguharjo. ’’Banyak yang minat,’’ kata Kasi Perumahan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Madiun Concon Kencoco.

Dia mengatakan tidak ada larangan mendaftar untuk menghuni rusun. Diakuinya, antusias masyarakat Kota Madiun bermukim di rusun cukup tinggi. Sebab, tidak sedikit masyarakat yang tergiur dengan fasilitas rusun dan tawaran harga sewa yang tergolong murah. ’’Lima lantai itu harganya bervariasi,’’ ujarnya.

Dia memerinci, lantai 1 khusus lansia sebesar Rp 100 ribu. Lantai 2 (Rp 210 ribu), dan lantai 3 (Rp 190 ribu). Berikutnya, lantai 4 (Rp 170 ribu) dan lantai 5 (Rp 150 ribu). Kendati penuh, sampai saat ini status  rumah yang difungsikan untuk masyarakat berpenghasilan rendah ini belum diresmikan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). ’’Pastinya kapan saya belum tahu,’’ tuturnya.

Lantaran belum diserahterimakan, sampai saat ini penghuni rusuwa belum dibebankan biaya sewa dan air. Mereka hanya diminta untuk membayar biaya penggunaan listrik dalam bentuk token pulsa. Karena itu, tagihan listrik setiap penghuni rusuwa berbeda-beda. Semakin besar peranti elektronik dalam kamar, biaya yang dikeluarkan penghuni juga tinggi. Seperti Sriatun, lansia yang tinggal di lantai dua ini mengaku penggunaan listrik selama hampir enam bulan bermukim di rusuwa hampir Rp 500 ribu. ’’Ngisi Rp 50.000 iso dua tiga minggu, Jeng,’’ katanya.

Kamar Sriatun sebagian dimanfaatkan untuk berjualan. Pantauan Jawa Pos Radar Madiun, ada lima penghuni yang memanfaatkan sebagian ruangnya untuk berdagang sembako maupun jajanan. Disperkim memang memperbolehkan penghuni berjualan asalkan tidak di arena publik. ’’Awit pertama, aku ngomong, lek nggak oleh dodolan, ora gelem pindah,’’ ucapnya. (dil/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here