Surabaya-Madiun Zig-Zag Hindari Lubang Jalan

187

Jelajah Trans Jawa 900 kilometer dengan sepeda dihelat mulai kemarin pagi. Dari titik nol Tugu Pahlawan Surabaya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memberangkatkan peserta gowes. Menariknya, Madiun menyumbang cyclist terbanyak di event ini. Apa hebatnya Madiun?

———–

KUOTA terbatas. Dua kata ini yang menjadi titik tekan panitia yang diinisiasi oleh Samba, klub sepeda Semarang. Event prestisius ini hanya boleh diikuti 50 cyclist. Tidak lebih tidak kurang. Yang hebat, dengan kuota terbatas itu Madiun menjadi penyumbang peserta terbanyak. Dari 50 cyclist itu, 25 persennya atau 10 cyclist berasal dari Madiun.

Apa tidak bikin iri kota lain? Ya pastinya. Sebab, 50 cyclist ini, sesuai rundown dari panitia, akan mendapat fasilitas istimewa. Selain pengawalan selama perjalanan berikut akomodasinya, saat finis di Jakarta akan dijamu Presiden Joko Widodo di istana negara. Lantas siapa yang menyodorkan cyclist terbanyak dari Madiun di event ini? Ternyata kekuatan lobi Sony Hendarto terbukti masih sakti. Artinya, jaringan pemilik diler Marco Motor ini masih kuat di dunia balap sepeda.

CYCLIST MADIUN: Iwan Puwantoro, Sony Hendarto, Iwan Yoshinata, Tonny Jo, dan Tan Swie Lay.

Ini saya lihat sendiri bagaimana kekuatan lobi Sony. Saat pra-technical meeting sore kemarin di salah satu hotel bintang empat di kawasan Jembatan Merah, Surabaya Utara, bapak dua putri ini mampu mengubah rundown panitia. Padahal rundown itu tidak boleh diubah-ubah. Sebab, urusannya dengan protokoler istana. “Tak akoni (saya akui, Red) Pak Sony. Bayangkan, kota-kota lainnya saja susah mendaftar, Madiun malah dikasih wild card untuk 10 cyclist-nya,” kata Iwan Purwantoro, owner Jatim Cell.

Selain Sony, cyclist Madiun yang turun ’’melantai’’ di etape pertama Surabaya-Madiun adalah Benny Santoso (owner Jolo Motor), Subur Santoso (owner Citra Travel), Slamet Santoso (pionir IPSM),  Iwan Yoshinata, Tan Swie Lay, Tonny Jo, Heru Kusbiantoro, Roni, dan penulis. Etape pertama mayoritas jalannya flat. Jaraknya 175 kilometer. Karena jalan flat inilah, para cyclist Madiun yakin dan mampu menundukkan rute yang masuk klasifikasi ’’pemanasan’’ ini. “Pokoknya harus finis. Sudah diusahakan dapat fasilitas istimewa, masak gak finis. Ojo ngisin-ngisini (jangan malu-maluin, Red) Madiun ya,” kata Tan Swie Lay yang dikenal sebagai ’’pengompor’’ cyclist ini.

TANGGUH : Dari kiri Sony Hendarto, Slamet Santoso, dan Subur Santoso.

Usai diberangkatkan, seluruh cyclist diampirkan ke gedung Grahadi oleh Khofifah. Di rumah dinas gubernur ini, seluruh cyclist luar kota memanfaatkan waktu yang cekak itu untuk foto-foto. Setiap sudut gedung Grahadi disulap jadi spot selfie. Usai puas melahap habis halaman Grahadi, giliran Khofifah yang jadi sasaran. Gubernur perempuan pertama di Jatim ini dijadikan rebutan cyclist untuk selfie bersama.

AKRAB: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama penulis.

Hampir setengah jam lamanya para cyclist ngubek-ubek Grahadi. Selepas itu, cyclist –yang datang dari segala penjuru tanah air– ini mulai melahap etape pertama. Begitu keluar Surabaya dan masuk kawasan Sepanjang, jalan mulai tidak nyaman untuk dilewati sepeda. Lubang yang menganga di sepanjang perjalanan, benar-benar menguras konsentrasi peloton.

Selepas Sepanjang, masuk kawasan Krian hingga Mojokerto, jalan berlubang tiada habisnya. ”Harus terus fokus ya. Hitung lubang jalannya, kalau tidak ingin terperosok,” seloroh seorang cyclist.

Apa yang diutarakan cyclist tersebut memang tidak salah. Penulis yang ikut gowes sepanjang 175 kilometer melihat bahwa mayoritas jalan yang dilewati penuh lubang. Kondisi ini memang tidak menyamankan seluruh peserta Jelajah Trans Jawa. Harusnya bisa mempercepat waktu tempuh, akibat mata tak lepas mliliki lubang, kecepatan waktu pun berkurang. Mengapa lubang-lubang jalan sepanjang 175 kilometer tersebut selalu lambat ditutup?

Penulis memastikan bahwa ini persoalan semangat memperbaiki jalan yang harus diperbaiki. Kalau persoalan anggaran, saya yakin pemprov selalu menganggarkan. Yang makin memprihatinkan, sekarang jalan raya juga berfungsi sebagai drainase. Ini akibat saluran air di sepanjang jalan raya selalu ditutup. Alasan klasiknya, karena got mampet menghasilkan bau tidak sedap. Karena itulah, warga sekitar saluran air berswadaya menutup pakai beton. Akankah situasi ini terus berlanjut? Kita tunggu saja.

Yang penting, setelah pit stop di Nganjuk, seluruh peserta Jelajah Trans Jawa masuk Madiun sekitar pukul 13.30. Yang penting lagi, cyclist gaek Madiun seperti Slamet Santoso, Subur Santoso, dan Tan Swie Lay finis sampai Madiun dengan baik dan benar. Ingin tahu berapa usia para pegowes gaek tersebut? Nyaris 60 tahun. Tapi, kestabilannya mengayuh pedal Surabaya-Madiun patut diacungi jempol. ***(aris sudanang – hengky tornando/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here