Magetan

1.800 Buruh Dirumahkan Hanya Dapat JPS

Rp 200 Ribu Sebulan dari Disnaker Magetan

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Empat industri besar di Magetan tidak beroperasi selama pandemi Covid-19. Yakni, PT Bintang Inti Karya (BIK), PT Berkat Agung Jaya Abadi (BAJA), PT Admira Magetan (AM), dan PT Iham Industri Wahana (IIW). Ribuan pekerja pun dirumahkan. ‘’Sebagian besar karena permintaan buruh,’’ kata Kabid Hubungan Industrial dan Transmigrasi Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Magetan Singgih Mujoko Minggu (2/8).

Singgih menyebut, dua dari industri tersebut bergerak di bidang tekstil. Untuk proses menjahit, karyawan harus berdekatan satu sama lain. Sehingga, potensi penularan cukup besar. Lagi pula, butuh waktu untuk mengubah pola pekerjaan di pabrik. ‘’Peralatan tidak bisa digeser dengan mudah untuk pengaturan jaga jarak,’’ ujarnya.

Disnaker tak memiliki program khusus untuk para buruh selama dirumahkan. Pelatihan juga tak bisa berjalan. Sehingga, istirahat total. Pun tidak ada penghasilan. Produksi dihentikan dan konsumen juga minim. ‘’Apalagi yang produknya ekspor, saat ini lumpuh karena karantina wilayah di beberapa negara tujuan ekspor,’’ jelas Singgih.

Hingga kini 1.841 pekerja yang dirumahkan diusulkan mendapat jaring pengaman sosial (JPS) dari Disnaker Magetan. Namun, yang disetujui 1.800. Sebab, sebagian sudah mendapatkan bansos atau masuk daftar program keluarga harapan (PKH). ‘’Sudah kami usulkan ke dinas sosial, hanya itu yang bisa kami lakukan,’’ tuturnya.

Setiap bulan mereka mendapat JPS Rp 200 ribu. Hingga kini pencairannya sudah tahap kedua. Singgih menyadari JPS belum sepenuhnya menolong. ‘’Kami harap dengan adaptasi kebiasaan baru segera membuka kesempatan perusahaan memodifikasi model pekerjaannya,’’ ucapnya. (fat/c1/sat)

Rumah Kos Kosong Disalahgunakan?

TIDAK hanya ribuan buruh yang sedih karena dirumahkan perusahaan tempatnya bekerja. Masyarakat sekitar pabrik pun nelangsa. Contohnya, di Desa Karangsono, Barat, Magetan. Di desa ini berdiri PT BIK sejak empat tahun silam. Keberadaannya mampu meningkatkan kesejahteraan warga setempat.

Namun, sejak pagebluk korona, perekonomian mereka mulai goyah. Mulai pedagang kecil, penyedia jasa parkir, hingga pemilik rumah kos untuk para buruh pabrik. ‘’Kosong. Padahal ada enam kamar,’’ kata Mansyur, warga setempat pemilik rumah kos.

PT BIK mempekerjakan ribuan buruh. Tidak hanya dari Magetan, tapi juga dari luar kota. Sehingga, mereka butuh tempat kos. ‘’Sudah jalan beberapa tahun, tarif Rp 350 ribu per kamar,’’ ujarnya.

Sudah empat bulan dia tak dapat penghasilan dari kos-kosannya. Bahkan, juga belum ada kabar kapan pabrik ini kembali beroperasi. ‘’Sempat beroperasi sebentar, hanya mendapat pesanan tas katanya. Nggak sampai sebulan,’’ ungkapnya.

Dia berharap situasi dan kondisi segera pulih. Sehingga penghasilannya juga bisa membaik. Tak hanya pemilik rumah kos, tapi juga masyarakat setempat yang memanfaatkan keberadaan industri. ‘’Tidak hanya warga Karangsono, tapi juga Banjarejo,’’ sebutnya.

Sementara itu, warga lainnya juga resah rumah kos yang kosong disalahgunakan. Terutama, untuk praktik permesuman. ‘’Jangan sampai kos-kosan di sini dijadikan tempat untuk memberi kesempatan untuk tindak asusila,’’ tegas Heru Sunarko, warga setempat.

Menurut dia, sempat beredar kabar salah satu rumah kos menyewakan kamar untuk pasangan bukan mahram. Sehingga, warga mendesak pemdes setempat mengeceknya. ‘’Bukan berarti kami tidak memberi kebebasan, tapi ada batasnya. Kalau suami-istri sah, tidak masalah,’’ katanya. (fat/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close