1.155 Warga Ngawi Alami Gangguan Jiwa Berat

133

NGAWI – Indeks kesehatan fisik warga Bumi Orek-Orek boleh saja diklaim meningkat. Namun, masih banyak penduduk setempat yang masuk kategori orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Catatan dinas kesehatan (dinkes), di Ngawi saat ini terdapat 1.155 ODGJ berat.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Endah Pratiwi mengatakan, puskesmas menjadi garda terdepan penanganan ODGJ. Masing-masing dibekali seorang dokter dan perawat yang dikhususkan sebagai pengelola program ODGJ di wilayah setempat. ‘’Seluruhnya 24 puskesmas. Kader-kader pengelola progam itu bertugas untuk menangani ODGJ,’’ ujar Endah kemarin (18/1).

Sejumlah petugas itu, lanjut dia, memberikan pendampingan serta perawatan terhadap ODGJ secara berkala. Pun, mereka segera bergerak saat mendapat laporan adanya pengidap gangguan jiwa yang mengamuk. Karena itu, tak jarang penanganannya melibatkan personel TNI-Polri. ‘’Diatasi dengan perawatan lanjutan. Tahun ini sudah tidak ada yang dipasung dari delapan ODGJ re-pasung tahun lalu,’’ tutur Endah.

Dikatakan Endah, penanganan ODGJ lanjutan tidak selamanya harus dirawat di rumah sakit. Melainkan bisa pula melalui pengobatan berkala di rumah. Di sisi lain, diakuinya upaya pengobatan terkendala minimnya daya tampung rumah sakit. ‘’Tidak muat kamarnya. Tapi, dengan program ODGJ tersebut bisa dilakukan perawatan lanjutan itu tadi,’’ terangnya.

Diakui pula bahwa obat-obatan yang ada di puskesmas masih belum menyasar semua tingkatan ODGJ. Akibat keterbatasan tempat di rumah sakit tersebut, ODGJ diupayakan ditangani dari bawah. Alhasil, penderita gangguan jiwa dengan tingkat keparahan tinggi maupun sedang kambuh baru bisa dirujuk ke rumah sakit. ‘’Petugas puskesmas memberikan perawatan lanjutan. Tapi, kalau ODGJ-nya parah, harus dirawat di rumah sakit,’’ pungkasnya. (mg8/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here